Begitu Banyak Dari Pihak NON KRISTEN Menyerang PAULUS Dengan ILMU Yang Mereka Andalkan...
Terkadang Mereka Mengatakan YESUS Tidak Pernah Mendirikan KRISTEN Tapi KRISTEN Adalah Buatan PAULUS...
Baik Saya Coba Meluruskan Ini :
Siapa Sebenarnya Yang Memberi Nama/Sebutan KRISTEN...??
Yang Perlu Dipahami Disini Adalah :
PAULUS Tidak menciptakan KRISTEN Dan Agama KRISTEN..
Istilah Kristen (Yunani: χριστιανος - khristianos) berarti pengikut Kristus,
bukan pengikut Paulus. Pengikut Paulus disebut golongan Paulus, dan
istilah "golongan Paulus" itu justru ditentang oleh Paulus sendiri (1
Korintus 1:12).
Penulis Islam memang sering memojokkan Paulus
seraya menuduh bahwa "agama" Kristen tidak didirikan oleh Yesus,
melainkan oleh Paulus. Terhadap tuduhan itu, jelas sekali hal itu tidak
benar karena jemaat Kristen (umat yang percaya Kristus) mula-mula
terbentuk di Yerusalem , jauh sebelum Paulus bertobat, bahkan Paulus
inilah yang menganiaya, mengejar, dan membunuh sebagian besar anggota
jemaat yang mula-mula.
* Kisah Para Rasul 8:3 Mengatakan :
Tetapi Saulus berusaha membinasakan jemaat
itu dan ia memasuki rumah demi rumah dan menyeret laki-laki dan
perempuan ke luar dan menyerahkan mereka untuk dimasukkan ke dalam
penjara.Paulus memang tidak bertemu secara langsung dengan Yesus pada saat Yesus
berada di bumi. Tetapi Yesus menemuinya secara pribadi dalam suatu
pengelihatan (Kisah 9:3-9; 22:6-11; 26:1-18) dan itulah yang membuat
Paulus bertobat
Banyak serangan thd ajaran Paulus sebagai penyesat,
tetapi Alkitab menulis secara jelas bahwa Murid-murid Yesus lainnya
mengakui Paulus sebagai rasul.
* Kisah Para Rasul 15:22 Mengatakan :
Maka rasul-rasul dan penatua-penatua beserta
seluruh jemaat itu mengambil keputusan untuk memilih dari antara mereka
beberapa orang yang akan diutus ke Antiokhia bersama-sama dengan Paulus
dan Barnabas, yaitu Yudas yang disebut Barsabas dan Silas. Keduanya
adalah orang terpandang di antara saudara-saudara itu.
* 2 Petrus 3:15 Mengatakan :
Anggaplah kesabaran Tuhan kita sebagai
kesempatan bagimu untuk beroleh selamat, seperti juga Paulus, saudara
kita yang kekasih, telah menulis kepadamu menurut hikmat yang
dikaruniakan kepadanya.
Kemudian Dalam Tuduhan Lainnya Yang Saya Jumpai,,Mereka Membuat Pernyataan Yang Sesungguhnya Mereka Tidak PAHAM...
Contohnya :Injil Matius 10:5-6 ‘Kedua belas murid itu
diutus oleh Yesus dan ia berpesan kepada mereka: “Janganlah kamu
menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria
melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel”.
(Dalam
Injil Matius 10:5-6 Dalam Alkitab Bahasa Indonesia sehari-hari) “Kedua
belas rasul itu kemudian diutus oleh Yesus dengan mendapat
petunjuk-petunjuk ini, “Janganlah pergi ke daerah orang-orang yang bukan
Yahudi. Jangan juga ke kota-kota orang Samaria. Tetapi pergilah kepada
orang-orang Israel, khususnya kepada mereka yang sesat.”
Tanggapan Saya :
Matius 10:5-6 Mengatakan :"Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan
Ia berpesan kepada mereka: 'Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa
lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada
domba-domba yang hilang dari umat Israel.'"Di dalam perikop itu ditemukan permulaan dari pengutusan Yesus kepada
para murid-Nya. Kata bahasa Yunani yang di sini diterjemahkan dengan
"berpesan" (Alkitab Kabar Baik dalam bahasa sehari-hari menulisnya
dengan 'mendapat petunjuk-petunjuk') adalah kata 'paragellô'. Kata ini
sangat menarik. Di dalam bahasa Yunani kata itu mempunyai empat macam
penggunaan:
(1) Kata itu adalah kata yang biasa dipakai di dalam ketentaraan, dalam arti memberi perintah atau komando.
Contoh:
Kisah Para Rasul 23:22 Mengatakan :
"Lalu kepala pasukan menyuruh anak muda itu
pulang dan memerintahkan ('paragellô') kepadanya: 'Jangan katakan kepada
siapapun juga, bahwa engkau telah memberitahukan hal ini kepadaku.'"
Dalam arti ini maka Yesus seolah-olah seperti seorang jenderal yang
memerintahkan komandan-komandan-Nya pergi melakukan perintah; kepada
mereka Yesus memberi pesan, sebelum mereka berangkat.
(2) Kata
itu dipakai juga untuk memanggil teman untuk minta pertolongan. Di sini
Yesus seolah-olah seperti seseorang yang mempunyai cita-cita tinggi,
lalu memanggil teman-teman-Nya untuk menolongnya mewujudkan cita-cita
tersebut.
(3) Kata itu dipakai untuk seorang guru yang memberikan
aturan-aturan dan petunjuk-petunjuk kepada para muridnya. Di sini Yesus
seolah-olah seperti seorang guru yang mengirimkan para murid-Nya ke
dunia dan membekali mereka dengan ajaran dan pesan-pesan-Nya.
(4)
Kata itu biasa dipakai dalam hubungan dengan perintah kerajaan. Di sini
Yesus seolah-olah seperti seorang raja yang melepaskan para duta-Nya
pergi ke dunia untuk menjalankan perintah-Nya dan berbicara bagi dan
atas nama-Nya.
Perikop itu dimulai dengan suatu perintah yang
sulit bagi setiap orang. Perikop itu mulai dengan melarang para murid
untuk pergi ke kota-kota bangsa lain atau ke kota orang Samaria. Karena
sulit dan anehnya perintah ini maka banyak orang yang berpendapat bahwa
perintah itu mungkin bukan perintah Yesus. Larangan untuk pergi kepada
orang lain dan suruhan untuk hanya memusatkan perhatian kepada orang
Israel saja, nampak bertentangan dengan sikap Yesus sendiri. Ada orang
yang berpendapat, bahwa perintah atau larangan seperti itu sebenarnya
adalah buatan orang-orang Yahudi sendiri yang ingin agar Injil itu hanya
bagi mereka saja. Orang-orang Yahudi inilah yang kemudian menaruh
larangan atau perintah itu ke mulut Yesus dalam cerita ini. Mereka itu
adalah orang-orang yang juga melawan Paulus, karena Paulus dengan keras
ingin mengabarkan Injil kepada orang-orang non-Yahudi.
Menanggapi
pandangan seperti di atas, perlu diingat beberapa hal. Kata-kata itu
sebenarnya tidak terlalu aneh untuk Yesus. Kata-kata itu bukanlah
ciptaan orang lain. Yesus sendirilah yang tentu telah mengucapkannya.
Dan karena itu perlu ada penjelasan lebih lanjut.
Dapat
dipastikan bahwa perintah itu bukanlah perintah yang tetap berlaku
selama-lamanya. Di dalam kitab Injil sendiri ditemukan Yesus yang
berbicara secara akrab dengan seorang wanita Samaria; bahwa Ia kemudian
memperkenalkan diri-Nya kepada wanita itu. Ia juga menuturkan sebuah
cerita kemanusiaan yang menarik kepadanya; Ia menyembuhkan seorang anak
perempuan dari seorang wanita Tirus atau Sidon; dan Matius sendiri pada
akhir kitab Injilnya menuturkan, bahwa Yesus mengutus orang-orang-Nya
untuk pergi ke seluruh dunia untuk membawa Injil ke segala bangsa. Jadi
penjelasannya bagaimana?
Pada waktu itu Yesus dan para murid-Nya
sedang berada di daerah Galilea. Di situ Ia melarang para murid-Nya
untuk pergi ke kota bangsa-bangsa lain. Artinya para murid tersebut
tidak boleh pergi ke utara ke daerah Siria, tidak boleh ke timur ke
daerah Dekapolis, dan tidak boleh ke selatan ke daerah Samaria. Jadi
maksud dari perintah ini dalam kenyataannya adalah untuk membatasi
wilayah perjalanan pertama para murid Yesus hanya di daerah Galilea
saja. Untuk pembatasan itu ada tiga alasan yang penting:
(1) Di
dalam rencana Allah orang-orang Yahudi mendapat tempat yang sangat
khusus. Menurut keadilan Allah, mereka harus mendapatkan penawaran
pertama terhadap Injil Memang benar bahwa mereka menolak Injil itu.
Tetapi sejarah memang direncanakan begitu rupa, supaya mereka mendapat
kesempatan yang pertama untuk menerima Injil itu.
(2) Kedua belas
rasul Yesus belum dipersiapkan untuk memberitakan Injil ke luar negeri.
Mereka tidak mengenal bangsa-bangsa luar; mereka belum memiliki
pengetahuan serta cara-cara yang tepat untuk itu. Supaya Injil dapat
dibawa kepada bangsa-bangsa lain, maka harus ada orang-orang seperti
Paulus yang mempunyai perlengkapan yang memadai. Pemberitaan itu
cenderung gagal kalau pemberitanya kurang mempunyai persiapan atau
perlengkapan untuk tugas itu. Seorang pengkhotbah atau guru yang
bijaksana akan mengakui keterbatasan dirinya; ia secara jelas juga akan
tahu hal-hal yang cocok dikerjakannya dan hal-hal yang tidak cocok.
(3)
Tetapi alasan utama dari perintah itu sebenarnya adalah yang berikut:
setiap komandan yang bijaksana mengetahui bahwa ia harus membatasi
sasaran. Ia harus mengarahkan serangannya pada satu titik pilihan yang
jitu. Kalau ia menyebarkan kekuatan dan serangannya ke mana-mana sekali
gus, maka ia akan menghambur-hamburkan kekuatannya dan menghadapi bahaya
kegagalan. Makin kecil kekuatan yang dimiliki, maka makin terbatas pula
sasaran yang harus dicapainya. Serangan yang diarahkan ke medan yang
terlalu luas hanya akan membawa malapetaka diri sendiri saja. Yesus
mengetahui hal seperti itu, sehingga Ia memusatkan wilayah jelajah
pertamanya hanya ke daerah Galilea saja. Lagi pula Galilea, adalah
satu-satunya daerah Palestina yang paling terbuka bagi Injil dan berita
baru. Perintah Yesus itu jadinya adalah perintah sementara. Yesus adalah
komandan yang bijaksana yang tidak mau menghambur-hamburkan kekuatan
yang dimiliki-Nya. Dengan segala kecakapan-Nya Ia memusatkan
tindakan-Nya hanya pada satu sasaran yang terbatas, agar bisa mencapai
hasil yang setinggi-tingginya.
Urutan prioritas pengabaran Injil
di era Yesus Kristus dan para rasul adalah pertama-tama orang Yahudi,
kemudian orang Yunani. Prioritas ini terlebih-lebih berlaku bagi Yesus
Kristus, yang tugas-Nya adalah memanggil umat Allah kepada pertobatan
dan kepada pengenalan akan panggilan mereka melalui Mesias untuk membawa
Injil kepada semua orang.
Roma 1:6 Mengatakan :
"Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh
dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan
setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang
Yunani."
Shalom Aleichem
Blessing In Christ..