Jumat, 23 Agustus 2013

Siapa Yang Memberi Nama/Sebutan KRISTEN...???

Begitu Banyak Dari Pihak NON KRISTEN Menyerang PAULUS Dengan ILMU Yang Mereka Andalkan...
Terkadang Mereka Mengatakan YESUS Tidak Pernah Mendirikan KRISTEN Tapi KRISTEN Adalah Buatan PAULUS...

Baik Saya Coba Meluruskan Ini :
Siapa Sebenarnya Yang Memberi Nama/Sebutan KRISTEN...??

Yang Perlu Dipahami Disini Adalah :

PAULUS Tidak menciptakan KRISTEN Dan Agama KRISTEN..

Istilah Kristen (Yunani: χριστιανος - khristianos) berarti pengikut Kristus, bukan pengikut Paulus. Pengikut Paulus disebut golongan Paulus, dan istilah "golongan Paulus" itu justru ditentang oleh Paulus sendiri (1 Korintus 1:12).


Penulis Islam memang sering memojokkan Paulus seraya menuduh bahwa "agama" Kristen tidak didirikan oleh Yesus, melainkan oleh Paulus. Terhadap tuduhan itu, jelas sekali hal itu tidak benar karena jemaat Kristen (umat yang percaya Kristus) mula-mula terbentuk di Yerusalem , jauh sebelum Paulus bertobat, bahkan Paulus inilah yang menganiaya, mengejar, dan membunuh sebagian besar anggota jemaat yang mula-mula.

* Kisah Para Rasul 8:3 Mengatakan :
Tetapi Saulus berusaha membinasakan jemaat itu dan ia memasuki rumah demi rumah dan menyeret laki-laki dan perempuan ke luar dan menyerahkan mereka untuk dimasukkan ke dalam penjara.Paulus memang tidak bertemu secara langsung dengan Yesus pada saat Yesus berada di bumi. Tetapi Yesus menemuinya secara pribadi dalam suatu pengelihatan (Kisah 9:3-9; 22:6-11; 26:1-18) dan itulah yang membuat Paulus bertobat
Banyak serangan thd ajaran Paulus sebagai penyesat, tetapi Alkitab menulis secara jelas bahwa Murid-murid Yesus lainnya mengakui Paulus sebagai rasul.


* Kisah Para Rasul 15:22 Mengatakan :
Maka rasul-rasul dan penatua-penatua beserta seluruh jemaat itu mengambil keputusan untuk memilih dari antara mereka beberapa orang yang akan diutus ke Antiokhia bersama-sama dengan Paulus dan Barnabas, yaitu Yudas yang disebut Barsabas dan Silas. Keduanya adalah orang terpandang di antara saudara-saudara itu.


* 2 Petrus 3:15 Mengatakan :


Anggaplah kesabaran Tuhan kita sebagai kesempatan bagimu untuk beroleh selamat, seperti juga Paulus, saudara kita yang kekasih, telah menulis kepadamu menurut hikmat yang dikaruniakan kepadanya.


Kemudian Dalam Tuduhan Lainnya Yang Saya Jumpai,,Mereka Membuat Pernyataan Yang Sesungguhnya Mereka Tidak PAHAM...


Contohnya :
Injil Matius 10:5-6 ‘Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan ia berpesan kepada mereka: “Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel”.

(Dalam Injil Matius 10:5-6 Dalam Alkitab Bahasa Indonesia sehari-hari) “Kedua belas rasul itu kemudian diutus oleh Yesus dengan mendapat petunjuk-petunjuk ini, “Janganlah pergi ke daerah orang-orang yang bukan Yahudi. Jangan juga ke kota-kota orang Samaria. Tetapi pergilah kepada orang-orang Israel, khususnya kepada mereka yang sesat.”



Tanggapan Saya :

Matius 10:5-6 Mengatakan :
"Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka: 'Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.'"Di dalam perikop itu ditemukan permulaan dari pengutusan Yesus kepada para murid-Nya. Kata bahasa Yunani yang di sini diterjemahkan dengan "berpesan" (Alkitab Kabar Baik dalam bahasa sehari-hari menulisnya dengan 'mendapat petunjuk-petunjuk') adalah kata 'paragellô'. Kata ini sangat menarik. Di dalam bahasa Yunani kata itu mempunyai empat macam penggunaan:

(1) Kata itu adalah kata yang biasa dipakai di dalam ketentaraan, dalam arti memberi perintah atau komando.

Contoh:

Kisah Para Rasul 23:22 Mengatakan :
"Lalu kepala pasukan menyuruh anak muda itu pulang dan memerintahkan ('paragellô') kepadanya: 'Jangan katakan kepada siapapun juga, bahwa engkau telah memberitahukan hal ini kepadaku.'"

Dalam arti ini maka Yesus seolah-olah seperti seorang jenderal yang memerintahkan komandan-komandan-Nya pergi melakukan perintah; kepada mereka Yesus memberi pesan, sebelum mereka berangkat.

(2) Kata itu dipakai juga untuk memanggil teman untuk minta pertolongan. Di sini Yesus seolah-olah seperti seseorang yang mempunyai cita-cita tinggi, lalu memanggil teman-teman-Nya untuk menolongnya mewujudkan cita-cita tersebut.

(3) Kata itu dipakai untuk seorang guru yang memberikan aturan-aturan dan petunjuk-petunjuk kepada para muridnya. Di sini Yesus seolah-olah seperti seorang guru yang mengirimkan para murid-Nya ke dunia dan membekali mereka dengan ajaran dan pesan-pesan-Nya.

(4) Kata itu biasa dipakai dalam hubungan dengan perintah kerajaan. Di sini Yesus seolah-olah seperti seorang raja yang melepaskan para duta-Nya pergi ke dunia untuk menjalankan perintah-Nya dan berbicara bagi dan atas nama-Nya.

Perikop itu dimulai dengan suatu perintah yang sulit bagi setiap orang. Perikop itu mulai dengan melarang para murid untuk pergi ke kota-kota bangsa lain atau ke kota orang Samaria. Karena sulit dan anehnya perintah ini maka banyak orang yang berpendapat bahwa perintah itu mungkin bukan perintah Yesus. Larangan untuk pergi kepada orang lain dan suruhan untuk hanya memusatkan perhatian kepada orang Israel saja, nampak bertentangan dengan sikap Yesus sendiri. Ada orang yang berpendapat, bahwa perintah atau larangan seperti itu sebenarnya adalah buatan orang-orang Yahudi sendiri yang ingin agar Injil itu hanya bagi mereka saja. Orang-orang Yahudi inilah yang kemudian menaruh larangan atau perintah itu ke mulut Yesus dalam cerita ini. Mereka itu adalah orang-orang yang juga melawan Paulus, karena Paulus dengan keras ingin mengabarkan Injil kepada orang-orang non-Yahudi.

Menanggapi pandangan seperti di atas, perlu diingat beberapa hal. Kata-kata itu sebenarnya tidak terlalu aneh untuk Yesus. Kata-kata itu bukanlah ciptaan orang lain. Yesus sendirilah yang tentu telah mengucapkannya. Dan karena itu perlu ada penjelasan lebih lanjut.

Dapat dipastikan bahwa perintah itu bukanlah perintah yang tetap berlaku selama-lamanya. Di dalam kitab Injil sendiri ditemukan Yesus yang berbicara secara akrab dengan seorang wanita Samaria; bahwa Ia kemudian memperkenalkan diri-Nya kepada wanita itu. Ia juga menuturkan sebuah cerita kemanusiaan yang menarik kepadanya; Ia menyembuhkan seorang anak perempuan dari seorang wanita Tirus atau Sidon; dan Matius sendiri pada akhir kitab Injilnya menuturkan, bahwa Yesus mengutus orang-orang-Nya untuk pergi ke seluruh dunia untuk membawa Injil ke segala bangsa. Jadi penjelasannya bagaimana?

Pada waktu itu Yesus dan para murid-Nya sedang berada di daerah Galilea. Di situ Ia melarang para murid-Nya untuk pergi ke kota bangsa-bangsa lain. Artinya para murid tersebut tidak boleh pergi ke utara ke daerah Siria, tidak boleh ke timur ke daerah Dekapolis, dan tidak boleh ke selatan ke daerah Samaria. Jadi maksud dari perintah ini dalam kenyataannya adalah untuk membatasi wilayah perjalanan pertama para murid Yesus hanya di daerah Galilea saja. Untuk pembatasan itu ada tiga alasan yang penting:

(1) Di dalam rencana Allah orang-orang Yahudi mendapat tempat yang sangat khusus. Menurut keadilan Allah, mereka harus mendapatkan penawaran pertama terhadap Injil Memang benar bahwa mereka menolak Injil itu. Tetapi sejarah memang direncanakan begitu rupa, supaya mereka mendapat kesempatan yang pertama untuk menerima Injil itu.

(2) Kedua belas rasul Yesus belum dipersiapkan untuk memberitakan Injil ke luar negeri. Mereka tidak mengenal bangsa-bangsa luar; mereka belum memiliki pengetahuan serta cara-cara yang tepat untuk itu. Supaya Injil dapat dibawa kepada bangsa-bangsa lain, maka harus ada orang-orang seperti Paulus yang mempunyai perlengkapan yang memadai. Pemberitaan itu cenderung gagal kalau pemberitanya kurang mempunyai persiapan atau perlengkapan untuk tugas itu. Seorang pengkhotbah atau guru yang bijaksana akan mengakui keterbatasan dirinya; ia secara jelas juga akan tahu hal-hal yang cocok dikerjakannya dan hal-hal yang tidak cocok.

(3) Tetapi alasan utama dari perintah itu sebenarnya adalah yang berikut: setiap komandan yang bijaksana mengetahui bahwa ia harus membatasi sasaran. Ia harus mengarahkan serangannya pada satu titik pilihan yang jitu. Kalau ia menyebarkan kekuatan dan serangannya ke mana-mana sekali gus, maka ia akan menghambur-hamburkan kekuatannya dan menghadapi bahaya kegagalan. Makin kecil kekuatan yang dimiliki, maka makin terbatas pula sasaran yang harus dicapainya. Serangan yang diarahkan ke medan yang terlalu luas hanya akan membawa malapetaka diri sendiri saja. Yesus mengetahui hal seperti itu, sehingga Ia memusatkan wilayah jelajah pertamanya hanya ke daerah Galilea saja. Lagi pula Galilea, adalah satu-satunya daerah Palestina yang paling terbuka bagi Injil dan berita baru. Perintah Yesus itu jadinya adalah perintah sementara. Yesus adalah komandan yang bijaksana yang tidak mau menghambur-hamburkan kekuatan yang dimiliki-Nya. Dengan segala kecakapan-Nya Ia memusatkan tindakan-Nya hanya pada satu sasaran yang terbatas, agar bisa mencapai hasil yang setinggi-tingginya.

Urutan prioritas pengabaran Injil di era Yesus Kristus dan para rasul adalah pertama-tama orang Yahudi, kemudian orang Yunani. Prioritas ini terlebih-lebih berlaku bagi Yesus Kristus, yang tugas-Nya adalah memanggil umat Allah kepada pertobatan dan kepada pengenalan akan panggilan mereka melalui Mesias untuk membawa Injil kepada semua orang.

Roma 1:6    Mengatakan :
"Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani."



Shalom Aleichem
Blessing In Christ..